Amnesia-amnesiaan???

S : eh dewi..gimana? udah sembuh insomnianya? Hahaha..amnesia ya..hahaha
D : ooohh..iya Alhamdulillah ga parah..
S : hahaha... ada gitu orang amnesia, ilang ingetan tp sambil megang helm, sambil megangin kaki, sambil duduk lagi, ga ada luka ga ada apa-apa..hahaha..
D : ....
S : gwe pengen tarik elo tuh ke rel skalian biar sadar..
D : tega banget... *nada lirih*
S : bisa banget lo, ditanya nyokap lo, jawabnya “ga tau..ga inget...lupa..kenapa emangnya”... beuh spik banget gwe tau banget dah biar ga dimarahin kan? Hahaha..pengen gwe seret lo tuh..
D : ....
S : hahahhaha... Amnesia-amnesia , modus banget!!
D : .... *sigh*


CRAP! SHIT! go to hell!!

Hahaha...itulah kalimat mencak-mencak yang menggantung di tenggorakan ketika saya bertemu teman yang turut membantu saya ketika tempo hari saya mengalami kecelakaan di jalan raya Tanjung barat 5 November tahun lalu. Meskipun teman saya tersebut menyatakan hal di atas dengan nada becanda, tapi saya bisa merasakan sedih dan sakit hati, bukan karena kalimat yang menyudutkan tetapi lebih karena alasan ‘tidak dipercaya’. Saya rasa bukan hanya saya seorang yang tidak menyukai tuduhan ‘bohong’ tetapi semua orang akan merasa sangat tidak nyaman bila diperlakukan yang sama, terlebih bila lontaran negatif tersebut bukan atas sifat saya, bukan atas tindakan saya, dan bukan atas pengetahuan saya.. tp dalam kasus ini apa saya dapat membantah? Bila kenyataannya memang ya..dia yang turut andil menolong saya saat kecelakaan menceritakan bahwa ia mendapati saya tengah duduk di pinggir jalan raya dengan kaki terkulai, duduk sambil memegang helm, dan ketika saya di bawa pulang, saya dapat berdiri sendiri menuju motor hingga duduk dengan manisnya di bangku belakang motornya. Meskipun semua tindakan saya itu benar-benar tidak dapat saya ingat...benar-benar hilang dari memori saya...saya benar-benar tidak tahu seperti apa kondisinya malam itu kalau bukan dari cerita sinisnya. Tetapi dengan situasi yang terbangun seperti itu, apa saya masih bisa mengelak bahwa saya benar-benar tidak sadarkan diri, at least di depan dia yang melihat dengan kasat mata kalau saya terlihat “baik-baik” saja malam itu?

Rasa terpojokkan itu melahirkan semangat saya untuk mendapatkan pengetahuan lebih menajam mengenai hilang ingatan atau amnesia. Maka dengan bantuan bacaan yang cukup memadai, lahirlah artikel ini.

Amnesia berasal dari bahasa Yunani yang artinya kondisi terganggunya daya ingat. Jenis amnesia ada 7 macam yaitu: Anterograde Amnesia, Retrograde Amnesia, dan Lakunar Amnesia yang merupakan ketidakmampuan mengingat kejadian tertentu. Ada pula amnesia emosional, yakni hilangnya ingatan karena trauma psikologis, biasanya bersifat sementara. Kemudian amnesia sindrom korsakoff atau hilangnya ingatan karena alkoholisme kronik. Amnesia posthipnotik adalah hilangnya ingatan setelah keadaan hipnotik, termasuk ketidakmampuan mengingat kejadian saat hipnosis atau informasi yang disimpan pada memori jangka panjang. Dan terakhir adalah Transient global amnesia merupakan kehilangan sementara seluruh memori.


Saya memang tidak pandai untuk menganalisa masuk kebagian kategori yang mana kah gejala amnesia yang saya alami beberapa bulan lampau ini, tapi dari membaca dan mencoba memahami sekilas, mungkin apa yang terjadi pada ingatan saya itu termasuk ke dalam jenis Anterograde Amnesia (mudah-mudahan tidak salah), intinya adalah kehilangan memori singkat jangka pendek yang terjadi karena benturan atau bisa terjadi juga karena shock yang dialami oleh saya. Penderita amnesia jenis ini memang tidak sepenuhnya berada dalam keadaan pingsan, bisa seperti yang saya alami, keadaan melek, raga baik tapi jiwa dan ingatan yang tidak optimal kondisinya.

Atau mungkin sebenarnya yang terjadi hanyalah sekedar shock belaka akibat hantaman keras dari motor yang menabrak saya di belakang? Entahlah, yang jelas hingga saat ini saya tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada diri saya malam itu. Yang mampu saya ingat hanya memori sebelum kejadian kecelakaan dimana malam itu, saya memang pulang terlalu larut, sendirian membawa motor, sampai ingatan menit-menit saat saya ingin berbelok di putaran Tanjung Barat untuk mengambil jalur cepat menuju rumah saya yang berada di lenteng agung...setelah itu...blankkk...hingga besok paginya saya mendapati badan saya yang sakit-perih untuk beranjak dari tempat tidur. Agak sulit untuk mengingat, tapi pagi itu saya menyadari kalau saya mengalami kecelakaan di malam harinya. Dan tokoh ‘hero’ yang menuntun saya pulang hingga bisa berbaring lemas dengan manisnya di kasur kamar itu adalah pacar saya sendiri *sori curcol* hehehe...

Well, pada akhirnya terlepas bagaimana orang menilai kecelakaan yang saya alami, saya patut bersyukur atas apa yang telah terjadi, sebagaimana umumnya orang ‘kita’ yang selalu memulai kalimat syukur dengan kata ‘untung’ maka kalimat syukur saya berbunyi...’untung saja, malam itu motor yang menabrak saya dari belakang tidak terlalu kencang tubrukannya, shingga saya tidak sampai mental atau luka serius’...’untung saja, motornya enggak apa-apa’...’untung saja, setelah di rontgen bagian kepala saya masih utuh dan tidak terluka *pun sedikit benjol* padahal helm yang saya kenakan terlepas dari kepala saya’ dan muncul si untung si untung lainnya yang membuat saya semakin bersyukur masih bisa diamanahi nafas hingga detik ini. Dan omongan negatif dari orang lain? who’s care?? :D

No Response to "Amnesia-amnesiaan???"

Poskan Komentar