pertanyaan sepanjang tugas2 perkembangan manusia…

-->
ini cerita klise yang cukup sering didengar, tapi mampu membuat gwe merenung setelahnya...

beberapa hari yang lalu, gwe bertemu kawan satu almamater di kantin kampus, gwe lagi ada sedikit kerjaan yang menharuskan gwe tetap ke kampus,
gitu juga dia...klo udah kumpul2 gini, pasti pertanyaan yang terlontar adalah "kerja dimana?? atau "lagi sibuk apa??"

sebenernya gwe cukup muak dengan pertanyaan2 yang selalu ditanyakan dari kecil sampe tua nantinya, kita selalu ditanya mengenai kehidupan yang sesuai dengan tugas perkembangan hidup (development tasks) yang tengah dijalani...pertanyaan itu menunjukkan perhatian mereka sekaligus menyudutkan kita (baca : manusia) ketika kita "belum" berhasil melewati tugas2 tersebut dengan baik..belum berhasil disini adalah versi masyarakat kolektif.

sadar ga sadar, pribadi kita memang dibentuk oleh masyarakat. mungkin saat kecil, kita masih polos dan ga menyadari apa yang mesti dilakukan, pertanyaan2 seperti "udah bisa ngomong apa aja?? atau makan apa hari ini??" bisa dilewati dengan bersikap malu-malu, menunduk sambil merapat dibelakang badan orangtua kita masing2..tapi setelah cukup besar, pertanyaan itu harus dijawab dengan tempelan imej dan pertanggungjawabannya.

Zaman sekolah dulu, selalu ada pertanyaan "dapet rengking berapa?", begitu pula dengan masa kuliah yang menjadi pertanyaan umum adalah “kuliah dimana, ipk berapa, atau udah semester berapa?”
dan begitu lewat semester 7, tertempel beban moral untuk segera lulus karena sewajarnya 4 tahun untuk bisa membaluti diri dengan gelar sarjana atau 3 tahun bagi gelar Amd. Jika dalam renggang waktu tersebut kita masih menyandang status mahasiswa, maka yang ada tanggapan miring dari mereka (masyarakat umum) yang seenaknya bilang malas atau yang lebih miris lagi pandangan bahwa kita ini ga cukup pintar untuk bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu. Inilah alasan lain kenapa gwe ngibrit ngerjain skripsi biar bisa lulus di semester 8, selain tentu aja banyak faktor X yang melengkapi alasan itu.

setelah lulus dari itu??ga berarti beban lebih ringan, tetapi terasa semakin berat karena ada tekanan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar...dan gwe ada di tahapan ini, jujur gwe ngerasa cukup beruntung dengan mendapatkan pekerjaan yang baik di usia yang masih tergolong muda, tp bagaimana dengan yang lain?yang bahkan ada sebagian teman gwe yang enggan bertemu dengan teman2nya yang lain dengan alasan “merasa terpinggirkan” karena blm mendapat pekerjaan. so how pity…kita menjadi teralienasi karena labeling dari masyarakat yang mengikat.
adakah solusi atas itu semua??? sejauh ini, gwe masih belum mendapatkan jalan yang baik atas pengukungan diri ini, pun gwe adalah orang yang percaya bahwa “a man can change the world” tapi tentu ga semudah itu, masyarakat telah membentuk sistem dan konstruksi gagasan serta tindakan telah terinternalisasikan dalam diri individu selama bertahun2 bahkan lebih tua lamanya dari usia diri kita sendiri, oleh karena itu yang mampu kita lakukan adalah meng-up grade diri kita masing2 setinggi mungkin, sebaik mungkin, seluas mungkin..agar nantinya kita lah yang dapat menguasai diri ini dan orang lain..kita lah yang membuat peraturan dalam dunia, kitalah yang merubah pemikiran masyarakat dengan pengaruh2 positif yang telah kita buktikan adanya…dan untuk itu semua, gwe percaya, individu mampu merubah segalanyaaa….
singing it :
I hear Jerussalem bells a ringing
Roman cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field
For some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
That was when I ruled the world…
(chorus of Viva la vida by Coldplay)

3 Response to pertanyaan sepanjang tugas2 perkembangan manusia…

14 Februari 2010 00.47

kita emang slalu dituntut untuk menghasilkan sesuatu & mencapai target ya.. sifat alami masyarakat. sayangnya sebagian besar orang masih mereduksi itu ke hal2 yg bersifat prestasi intelektual atau pencapaian materi aja. kalo ga bisa ngelakuin itu, kita dianggap rada useless.

padahal masih banyak hal2 lain yg bisa dijadiin ukuran apakah si manusia ini udah 'jadi orang':)

slamat buat 'kelahiran' blognya, rajin update ya wi, gw demen blogwalking soalnya. hehe

-heidy-

15 Februari 2010 00.39

iya bener...semua dilihat dari segi materinya aja, tapi melihat hal-hal lain yang lebih kuat dan berarti...mungkin emang itu yang dimauin untuk memperkuat kapitalis..hehehe


thanks ya di..share2 juga dong tulisannya di blog..

27 Februari 2010 22.18

ada blog sih wi, tapi itu critanya 'sok2an' mo latian bahasa inggris. hehehe masih sepi banget. nanti dibagusin lagi deh

Poskan Komentar