berbagi rasa..berbagi canda..berbagi kisah
bukan lagu galau
Biarkan kaki ini terus melangkah membuana menapaki tanahMu, ya Tuhan....

Sore hari saya mendapati perbincangan singkat seorang anak dengan ibu nya di jalanan sempit milik swadaya masyarakat. Sekilas percakapan tersebut yang berhasil saya rekam sebagai berikut :
“mah, jalan-jalan yuk kemana kek..bosen di Jakarta aja...” pinta sang anak setengah merengek kepada ibunya, dengan tangan setengah berayun.
“ kamu belajar yaa yang pinter nanti kalau udah pinter, mau kemana aja juga bisa.. “ ujar si ibu menenangkan, sambil meraih tangan kanan si anak dan menuntutnya menuju rumah mereka.
Kata-kata itu tetap terngiang di telinga saya dan mampu membuat senyum di bibir membentuk bulan sabit bila mengingatnya. Memang benar, saya percaya penuh, ridho orang tua adalah ridho Tuhan dan setiap perkataan orang tua bisa menjadi doa yang mujarab. Mungkin kalimat di atas juga merupakan doa bagi setiap orang tua yang ingin mewujudkan keinginan anaknya yang memiliki mimpi untuk berlari dan melompati berbagai daerah.
Tanpa sadar, kata-kata orang tua itu menjadi penuntut saya untuk menuntut ilmu yang tinggi..mungkin sepele, tapi saya ingat betul pada akhirnya saya yang notabene orang asli Jakarta ini, bisa meninggalkan rumah di daerah pemukiman non kompleks kawasan Lenteng Agung terlama sepanjang sejarah saya hidup (12 hari) untuk pergi ke Baturraden, Purwokerto dalam rangka latihan penelitian bersama teman-teman Sosiologi FISIP UI angkatan 2005. Setelah itu saya yang mengikuti kuliah sosiologi pedesaan, turut serta turun lapangan penelitian di Desa Pakem, Yogyakarta selama seminggu, semuanya memang untuk kebutuhan memenuhi mata kuliah tertentu, tetapi biaya yang dikeluarkan sangat kecil, apalagi bila dibandingkan dengan ilmu, pengalaman, dan kekerabatan yang terjalin bersama teman-teman kampus di sana.
“kamu belajar yaa yang pinter, nanti mau kemana aja juga bisa”
Dan perkataan orang tua itu memang benar adanya, bahkan ketika saya sendiri yang sebenernya tidak merasa menjadi orang yang cukup pintar, mendapat tawaran untuk ikut penelitian terkait kebebasan beragama di Solo, kalau tidak salah tawaran ini datang saat saya mengambil semester 7. Untuk pertama kalinya, saya merasakan menginap di hotel “berbintang banyak” selama 3 hari untuk mengikuti training oleh Komnas HAM. Makan enak, tidur nyaman, mengambil sendal hotel dan tetek bengek peralatan kamar mandi yang free untuk dibawa pulang. Norak emang, tapi semua benar-benar saya banggakan, begitu banyak kemudahan, begitu banyak keajaiban..
Pertama kalinya saya naik pesawat.. 21 tahun hidup, akhirnya saya bisa melangkah di bandara Soekarno-Hatta, bukan untuk mengantar papah dinas luar ke Kalimantan, atau menyaksikan kepergian Rangga yang meninggalkan tangisan cinta di film drama AADC. Untuk kali ini, saya masuk bandara, belajar cek-in, dan duduk manis menunggu pesawat Sriwijaya Air menuju bandara Adi Soemarmo, Solo, bersama 3 teman lainnya dari Komnas Ham adalah untuk mewujudkan mimpi saya, mimpi yang membawa saya bisa berjalan-jalan keluar Jakarta, keluar dari tempat saya dilahirkan tanpa sepeser pun mengeluarkan uang dan justru mendapatkan sejumlah uang saku yang bagi saya sangat besar saat itu. Itu lah pengalaman pertama saya terbang dengan kerangka besi.
Untuk selanjutnya? Lagi-lagi jalan menuju tempat-tempat baru terbuka lebar, tidak lama saya lulus kuliah (wisuda Agustus 2009, ditetapkan sebagai CPNS BPS bulan Desember 2009, dan mulai aktif bekerja Mei 2010) hingga detik ini Alhamdulillah berhasil melalangbuana menapaki tanah Tuhan, merasakan sejuknya udara di luar Jakarta, menyeberang laut dan puluhan pulau-pulau kecil..
Seperti telah mencicipi rasa unik rawon Jawa Timur, membeli oleh-oleh bandeng juwana khas Semarang, mengitari kota Yogyakarta dengan ojek kampus UGM bernama Pak Ali, buka puasa di hari pertama Ramadhan tahun 2011 sendirian di Medan, ber-ngeri-ngeri ria naik travel dari kota Medan menuju Prapat (sebutan untuk daerah Danau Toba) dengan supir yang 1000x lebih ugal-ugalan dari kopaja di Jakarta, untuk kemudian menyeberang menuju desa tomok, pulau Samosir yang sebelumnya gambar keindahanya saya kagumi di buku IPS SD. Pernah juga merasakan suasana aneh menjalar di kota ‘semacam mati’ di Bengkulu dan Palu. Belanja murah baju-baju seken branded di Pasar Angso Duo, Jambi, hingga nekat menjelajah Pulau penyengat saat saya ke Tanjung Pinang yang di dalamnya terdapat mesjid kesultanan Riau dan makam raja-raja yang konon merupakan asal muasal peradaban tertua melayu. Dan tentu saja yang tidak kalah menariknya, untuk pertama kalinya menjelajah negeri orang, negeri gajah Thailand bersama 2 teman semasa kuliah, memorable sekali...
Sebagian perjalanan tersebut nantinya akan saya ukir dalam bentuk coretan tulisan tangan. Bukan untuk me-ria-kan beberapa perjalanan menyenangkan yang saya lewati tetapi inti dari tulisan ini adalah sebagai alarm untuk saya selalu mengingat akan kebesaran Tuhan, begitu banyaknya nikmat yang Ia suguhkan kepada saya dan tentu saja agar saya selalu terus bisa dapat merangkul dengan rasa sayang orang tua saya yang telah menciptakan banyak dialog sederhana untuk membangkitkan semangat saya mengarungi kehidupan, salah satunya seperti cuplikan dialog paling atas tulisan ini yang buat saya begitu inspiratif. Thanks mamah dan papah. Sungkem sujudku untuk kalian
Dewitri-09/03/2012 15:10
Amnesia-amnesiaan???
D : ooohh..iya Alhamdulillah ga parah..
S : hahaha... ada gitu orang amnesia, ilang ingetan tp sambil megang helm, sambil megangin kaki, sambil duduk lagi, ga ada luka ga ada apa-apa..hahaha..
D : ....
S : gwe pengen tarik elo tuh ke rel skalian biar sadar..
D : tega banget... *nada lirih*
S : bisa banget lo, ditanya nyokap lo, jawabnya “ga tau..ga inget...lupa..kenapa emangnya”... beuh spik banget gwe tau banget dah biar ga dimarahin kan? Hahaha..pengen gwe seret lo tuh..
D : ....
S : hahahhaha... Amnesia-amnesia , modus banget!!
D : .... *sigh*
CRAP! SHIT! go to hell!!
Hahaha...itulah kalimat mencak-mencak yang menggantung di tenggorakan ketika saya bertemu teman yang turut membantu saya ketika tempo hari saya mengalami kecelakaan di jalan raya Tanjung barat 5 November tahun lalu. Meskipun teman saya tersebut menyatakan hal di atas dengan nada becanda, tapi saya bisa merasakan sedih dan sakit hati, bukan karena kalimat yang menyudutkan tetapi lebih karena alasan ‘tidak dipercaya’. Saya rasa bukan hanya saya seorang yang tidak menyukai tuduhan ‘bohong’ tetapi semua orang akan merasa sangat tidak nyaman bila diperlakukan yang sama, terlebih bila lontaran negatif tersebut bukan atas sifat saya, bukan atas tindakan saya, dan bukan atas pengetahuan saya.. tp dalam kasus ini apa saya dapat membantah? Bila kenyataannya memang ya..dia yang turut andil menolong saya saat kecelakaan menceritakan bahwa ia mendapati saya tengah duduk di pinggir jalan raya dengan kaki terkulai, duduk sambil memegang helm, dan ketika saya di bawa pulang, saya dapat berdiri sendiri menuju motor hingga duduk dengan manisnya di bangku belakang motornya. Meskipun semua tindakan saya itu benar-benar tidak dapat saya ingat...benar-benar hilang dari memori saya...saya benar-benar tidak tahu seperti apa kondisinya malam itu kalau bukan dari cerita sinisnya. Tetapi dengan situasi yang terbangun seperti itu, apa saya masih bisa mengelak bahwa saya benar-benar tidak sadarkan diri, at least di depan dia yang melihat dengan kasat mata kalau saya terlihat “baik-baik” saja malam itu?
Rasa terpojokkan itu melahirkan semangat saya untuk mendapatkan pengetahuan lebih menajam mengenai hilang ingatan atau amnesia. Maka dengan bantuan bacaan yang cukup memadai, lahirlah artikel ini.
Amnesia berasal dari bahasa Yunani yang artinya kondisi terganggunya daya ingat. Jenis amnesia ada 7 macam yaitu: Anterograde Amnesia, Retrograde Amnesia, dan Lakunar Amnesia yang merupakan ketidakmampuan mengingat kejadian tertentu. Ada pula amnesia emosional, yakni hilangnya ingatan karena trauma psikologis, biasanya bersifat sementara. Kemudian amnesia sindrom korsakoff atau hilangnya ingatan karena alkoholisme kronik. Amnesia posthipnotik adalah hilangnya ingatan setelah keadaan hipnotik, termasuk ketidakmampuan mengingat kejadian saat hipnosis atau informasi yang disimpan pada memori jangka panjang. Dan terakhir adalah Transient global amnesia merupakan kehilangan sementara seluruh memori.
Saya memang tidak pandai untuk menganalisa masuk kebagian kategori yang mana kah gejala amnesia yang saya alami beberapa bulan lampau ini, tapi dari membaca dan mencoba memahami sekilas, mungkin apa yang terjadi pada ingatan saya itu termasuk ke dalam jenis Anterograde Amnesia (mudah-mudahan tidak salah), intinya adalah kehilangan memori singkat jangka pendek yang terjadi karena benturan atau bisa terjadi juga karena shock yang dialami oleh saya. Penderita amnesia jenis ini memang tidak sepenuhnya berada dalam keadaan pingsan, bisa seperti yang saya alami, keadaan melek, raga baik tapi jiwa dan ingatan yang tidak optimal kondisinya.
Atau mungkin sebenarnya yang terjadi hanyalah sekedar shock belaka akibat hantaman keras dari motor yang menabrak saya di belakang? Entahlah, yang jelas hingga saat ini saya tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada diri saya malam itu. Yang mampu saya ingat hanya memori sebelum kejadian kecelakaan dimana malam itu, saya memang pulang terlalu larut, sendirian membawa motor, sampai ingatan menit-menit saat saya ingin berbelok di putaran Tanjung Barat untuk mengambil jalur cepat menuju rumah saya yang berada di lenteng agung...setelah itu...blankkk...hingga besok paginya saya mendapati badan saya yang sakit-perih untuk beranjak dari tempat tidur. Agak sulit untuk mengingat, tapi pagi itu saya menyadari kalau saya mengalami kecelakaan di malam harinya. Dan tokoh ‘hero’ yang menuntun saya pulang hingga bisa berbaring lemas dengan manisnya di kasur kamar itu adalah pacar saya sendiri *sori curcol* hehehe...
Well, pada akhirnya terlepas bagaimana orang menilai kecelakaan yang saya alami, saya patut bersyukur atas apa yang telah terjadi, sebagaimana umumnya orang ‘kita’ yang selalu memulai kalimat syukur dengan kata ‘untung’ maka kalimat syukur saya berbunyi...’untung saja, malam itu motor yang menabrak saya dari belakang tidak terlalu kencang tubrukannya, shingga saya tidak sampai mental atau luka serius’...’untung saja, motornya enggak apa-apa’...’untung saja, setelah di rontgen bagian kepala saya masih utuh dan tidak terluka *pun sedikit benjol* padahal helm yang saya kenakan terlepas dari kepala saya’ dan muncul si untung si untung lainnya yang membuat saya semakin bersyukur masih bisa diamanahi nafas hingga detik ini. Dan omongan negatif dari orang lain? who’s care?? :D
bersamanya...
bersamanya ada yang berubah..
bersamanya ada yang tak biasa..
bersamanya tak ada resah..
bersamanya hilang rasa gundah..
bersamanya selalu ceria...
bersamanya dapat bermanja..
bersamanya belajar suka dan duka..
bersamanya sedih itu hilang seketika..
bersamanya kita mengejar cita..
bersamanya kita melangkah..
bersamanya kita raih sejumput daya..
bersamanya rasa, canda dan kisah tercurah..
bersamanya aku akan dewasa...
dan bersamanya kami akan menua...
special for my beloved boyfriend and i hope he's be my future husband, Arief Rochman.
Amin.
Rupa-rupa bertahan di Jakarta (introduce-part 1)

Siapa suruh datang Jakartaa…siapa suruh datang Jakartaa..
Lagu itu sangat tepat didengungkan bagi kaum pendatang yang (akhirnya) merasakan kerasnya kehidupan ibu kota. Lagu yang penuh dengan lirik sarkatis mengandung makna sindiran bagi orang-orang yang termakan dengan pesona-pesona kesempatan yang ditawarkan oleh kota pemerintahan sekaligus kota administrasi ini memang menggambarkan keadaan realitas yang sebenarnya. Hasilnya? Jakarta, kota yang telah berusia 483 tahun ini telah menjadi pusat konsentrasi penduduk dengan segala aktifitasnya. Berdasarkan data BPS berdasarkan hasil sensus terupdate tahun 2010 jumlah penduduk Jakarta sejumlah 9 jutaan jiwa (9.588.198 jiwa) namun ditambah kaum commuter, pada siang hari jumlah penduduk Jakarta meningkat drastis menjadi 12 juta. Jumlah populasi yang tidak berimbang untuk daerah yang hanya memiliki luas 661,52 km2.
Nama Jakarta sendiri telah bermetamorfosa sebanyak empat kali dari sebelumnya bernama Sunda Kelapa pada tahun sebelum 1527, Jayakarta di tahun 1527-1619, disebut kota Batavia/betawi (1619-1942) kemudian beralih nama Djakarta (1942-1972) hingga menjadi nama Daerah Khusus Ibukota Jakarta dari tahun 1972 sampai dengan sekarang. Sekilas bercerita tentang Jakarta, kita dapat melihat secara sosiokultural-historis dari pembangunan kota Jakarta ini. Pada abad ke 17, mulanya kota yang bernama Batavia merupakan kota dagang namun setelah Inggris menggantikan Belanda, Batavia perannya diubah menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi kolonial. Setelah kemerdekaan dan berganti nama menjadi Jakarta, peran kota ini dipusatkan menjadi pusat pemerintahan dan Surabaya dipusatkan menjadi kota pusat perdagangan Indonesia. Lalu pada masa Soeharto, Jakarta kembali diubah perannya menjadi kota pusat pemerintahan dan pusat ekonomi sehingga keutamaan kota Jakarta menjadi lebih besar daripada kota – kota lainnya di Indonesia.
Kompleksitas fungsi Jakarta tersebut menghadirkan daya tarik bagi pendatang karena konsentrasi dan sirkulasi modal di Jakarta begitu padatnya. Arus urbanisasi melonjak dari tahun ke tahun tanpa persiapan tempat tinggal maupun mumpuni pekerjaan. Penduduk bertambah sejalan dengan jumlah permintaan yang meningkat, permintaan akan rumah, kendaraan, gedung perkantoran, pusat belanja, dan lain-lain. Kepadatan itu tidak diimbangi dengan daya tampung kota yang begitu terbatas. Inilah mata rantai dari kompleksitas kota Jakarta, akar dari segala permasalahan kota megapolitan. Pemukiman kumuh, tumpukan sampah, kemacetan, transportasi umum yang tidak layak, kemajemukan penduduk, hingga banjir yang kerap mendatangi Jakarta tidak mampu dielakkan.
Tulisan ini mencoba melatarbelakangi pembahasan secara khusus yang akan dibahas secara kontinuitas. Permasalahan sistematis kota Jakarta yang kerap dialami oleh sebagian besar penduduknya yang akan dibahas lebih lanjut pada part-part terpisah..enjoy reading!! _dewitri
the power of dreams
kalian pasti punya mimpi..kalian pasti punya cita-cita...begitu pula saya..dan juga mereka..
entah mengapa saya selalu menjalani setiap detik kehidupan dengan sangat dinamis, kalau orang jawa bilang "ora ngoyo"...bahkan merasa sebaliknya bila terlalu ngotot dan obsess akan sangat mengecewakan akhirnya..
namun ternyata keterkejutan dalam pencapaian mimpi tidaklah datang dari langit, semua itu tetap butuh usaha, doa, keberuntungan, serta kemampuan...dan itu semakin saya sadari saat ini, untuk itu saya mencoba untuk lebih mengarahkan langkah demi langkah usaha untuk keterwujudan mimpi itu..semoga suatu hari nanti saya bisa terbang bersamanya
dan seandainya mimpi pertama tidak tercapai, saya akan memperjuangkan mimpi B dan C sebagai alternatifnya, smua rencana itu memang berdasarkan prioritas tp tentu tetap realistis dan dinamis dengan penyesuaian dari kelenturan grand scenario milik Tuhan yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya...
"Keep your dreams alive. Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe."
'nyanyi' bareng dc...
this air is blessed, you share with me.
This night is wild, so calm and dull,
these hearts they race, from self control.
Your legs are smooth, as they graze mine,
we're doing fine, we're doing nothing at all.
Pasti tau lah itu lagu siapa..hahaha, Cuma gwe kayaknya yang norak ga tau2an band apa ini, lagu ini ada sih di playlist winamp gwe, tapi gwe ga pernah berdendang ngedengerinnya, Cuma selewat aja..dan ga tau kenapa dua hari malam yang lalu (sabtu, 29 Mei 2009) gwe berada di ratusan (atau mungkin hingga ribuan) massa penikmat musik di acara Teens Ponds Concert di Lapangan D Senayan menjadi salah satu penonton Dashboard Confessional, The Cangcuters, dan juga Nindji..hm, sebelumnya ada penampilan dari Kotak, tp gwe telat dateng karena sebelumnya gwe jadi anak geyol dulu nonton n begaol di Senayan City..hehee Disini gwe ga pengen ngbahas band asal Amerika yang memiliki vokalis yang gwe sebut mas kris ini yang begitu nggemesin..tp yg akan gwe tulis di sini adalah cerita pengalaman gwe menonton acara musik, well, ga penting emang tp ini kan blog2 gwe, suka2 gwe dong mau posting apa kek..yeyyy…
Gwe adalah pengikut musik Indonesia, tidak seperti teman2 yang lain yang kurang paham lagu2 dari band atau penyanyi Indonesia, gwe justru tau banyak n tidak sedikit yang gwe hafal liriknya..dan kesukaan gwe terhadap musik Indonesia khususnya band-band lokal, enggak hanya gwe tunjukan dari membeli kaset2 mereka tetapi juga menyantroni konser2 yang bisa dilakuin..
Zaman SMA dulu, pensi begitu popular (dan entah kenapa sekarang udah jarang ya atau gwe yang ga update?) kalau emang bisa dateng (bisa dateng = ada duit beli tiket, ada kendaraan pulang dan ada temen2 begajulannya) maka gwe tentu dateng…inget banget, pensi pertama yang gwe jabanin itu pensi di Depok yang dibikin sama SMA Tugu Ibu (Tugib) artisnya ngundang Coklat, Marcel, Netral (yang gwe inget) itu tahun kapan ya..lama banget dah..di situ gwe amat sangat menikmati. Selanjutnya gwe jarang nolak ajakan nonton pensi, terus terus dan terus…dari mulai acara gaul SMA zaman itu PL Fair, sampe acara gretongan annual MTV Staying Alive yang ga luput ngbagi2in kondom..bener2 deh ga pernah absen (selagi bisa)

Makanya pas nonton dc kemaren, ingatan gwe langsung beralih mengenang masa-masa muda itu..dari mulai gwe menginjakkan kaki kembali ke tanah lapangan D Senayan sampe pulang. Dari kejauhan, gwe ngeliat penggemar cangcuters, nidji berjoget2an di baris depan..mungkin seperti yang diungkap temen gwe ‘mereka (baca : penonton itu) adalah para ababil2’ dan sekarang gwe ngerasa cukup tua untuk ikutan eksis di bawah panggung..tp ga lepas gwe terkenang ‘masa ababil’ itu..saat dimana gwe ada di bawah panggung paling depan..ikut nyanyi tereak tereak “jimmyyyyyyyyyyy Iai lof yuuuuuuuu’ saat nonton the upstairs sampe nonton konser sambil dijagain ma co gwe saat itu (baca: pegangan tangan, ga ada peluk2an ya..). semua itu pernah gwe alamin beberapa tahun silam.
Gwe ga mau menyebut mereka ababil atau alay2…karena itu menistakan diri gwe sendiri..gwe sama sekali ga berpandangan negative ke mereka, hello masing2 punya kegemarannya kan? Apa berarti kalian2 yang berada di menara gading sedang maen golf atau bowling adalah yang paling keren? Ga juga..makanya kalau sebagian orang menyepelekan kedatangan gwe yang udah cukup tua ini ke acara music ini, gwe bersikap boam dan masa bodo.
Inilah masalahnya menjadi sosiolog atau orang2 yang belajar mendalami ilmu tentang masyarakat, kalau kata salah satu senior gwe, sosiolog ga beda jauh sama paranormal, dukun, cenayang…sebagian dari mereka mungkin memang benar dapat melihat apa yang akan terjadi di masa datang secara samar-samar tapi mereka ga ada kuasa untuk memberitahukan hal2 non logis tersebut kepada khalayak umum, tetep ada yang disimpan sebagai bagian dari rahasia Ilahi. Mungkin seperti itu pula perumpamaan gamblang
orang-orang yang belajar ilmu sosiologi, kita dapat melihat common beyond dari suatu gejala social, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena power dan material thing stabil menjaga posisi teratasnya.
Disini gwe ingin mengkritisi orang-orang yang memberikan stigma miring kepada kaum dengan latar belakang menengah ke bawah ini, entah bagaimana anak muda yang berasal dari latar belakang tersebut ditempeli nama “alay” bila melakukan hal-hal yang norak. Hal-hal norak disini mencakup : penulisan kalimat dengan kombinasi huruf besar kecil dicampur angka-angka (sory, gwe bener2 ga bisa menirukan contoh tulisannya), selain itu mereka juga memakai baju, aksesoris, handphone, jam, dan lain-lain yang merupakan item2 kw kesekian2…jika kita memandang alay itu dari atribut-atribut tersebut, gwe pengen mengingatkan bahwa mereka adalah remaja yang sedang mencari identitas dirinya, produk tiruan yang mereka pakai merupakan dampak dari kapitalisme yang menumbuhkan semangat konsumerisme di masyarakat, tidak terlepas dari mana berasal, semua menjadi materialistis, namun ketidakberdayaan untuk memiliki produk yang orisinil menjadikan mereka mencoba untuk membeli yang lebih murah namun tetap layak dipakai dan tetap menggaung di kalangannya. Entah untuk gaya, atau memang kebutuhan, sebaiknya kita tidak memarjinalkan mereka, tidak memandang sebelah mata, biarkan mereka bergaul dengan itu semua, toh patokan benar salah, baik buruk dan gaul atau tidak,bukan berasal dari pandangan orang-orang yang duduk manis di mercy, melainkan itu semua relative berdasarkan nilai-nilai yang dianut kelompok masyarakat tertentu.
Kecuali orang-orang yang menonton acara musik dengan senggol-senggolan, mabuk-mabukan, merokok di tengah khalayak penonton yang sedang suka cita bernyanyi dengan artis idolanya, dan bertingkah pola sungguh tidak bersahabat…merekalah alay yang sebenernya…bukan hanya mengganggu, mengusik, mereka juga merugikan yang lainnya..



